Tampilkan postingan dengan label Serba-Serbi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serba-Serbi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 September 2011

Waspada PSK Baru, Lokalisasi Dolly Dirazia


SURABAYA, KOMPAS.com — Puluhan petugas Satpol PP dan kepolisian di Kecamatan Sawahan, Surabaya, Rabu (7/9/2011) malam, menggelar razia kartu identitas pekerja seks komersial (PSK) di lokalisasi Dolly, Surabaya. Razia kartu identitas PSK itu untuk memastikan bahwa setelah libur Ramadhan dan Lebaran, penghuni lokalisasi terbesar di Surabaya itu tidak bertambah.

"Sebelum Ramadhan, jumlah PSK tercatat 1.128 orang. Kami berharap setelah Lebaran tidak bertambah, lebih baik justru berkurang," kata Lurah Putat Jaya, Bambang Hartono, di lokasi razia.

Menurut dia, biasanya saat PSK kembali dari pulang kampung membawa teman atau sanak saudaranya untuk menekuni profesi yang sama menjadi PSK. "Malam ini jika ada penghuni baru, pemilik wisma kami minta memulangkannya malam ini juga," tegasnya.

Dalam razia tersebut, petugas memasuki satu per satu wisma di Gang Dolly dan mendata semua PSK untuk dicocokkan dengan data yang dimiliki pihak kecamatan. Hasilnya, ada 22 PSK yang tidak sesuai data kecamatan. Namun, mereka bukan pendatang baru, melainkan hanya PSK lama yang pindah ke wisma lain tetapi belum sempat melapor.

Menurut catatan Kelurahan Putat Jaya, di lokalisasi Dolly terdapat 332 wisma yang dihuni 1.128 PSK. Jumlah itu menurun dibanding dua bulan sebelum Ramadhan yang mencapai 1.137 PSK.

Menurut Bambang, program pemberdayaan kewirausahaan dan pembinaan mental keagamaan berhasil membuat PSK beralih profesi memilih jalan lain dalam mengais rezeki.

"Mereka ada yang pulang dan membuka usaha, memilih menikah, dan menjadi ibu rumah tangga," pungkas Bambang.

70 PSK Beroperasi di Lokalisasi Gude Madiun


Pihak Satpol PP Kabupaten Madiun, melakukan pendataan terhadap Pekerja Seks Komersial (PSK) yang ada di lokalisasi "Wisma Wanita Harapan Gude". Hal ini dilakukan untuk mengetahui keberadaan penghuni baru di satu-satunya lokalisasi yang ada di Kabupaten Madiun ini.

Kepala Seksi Operasi dan Penindakan, Sat Pol PP Kabupaten Madiun, Toni Agus, mengatakan dari pendataan yang ia lakukan sejak pukul 09.30 WIB hingga pukul 11.00 WIb tadi, tercatat ada 70 PSK yang kembali. Jumlah ini berbeda dengan jumlah PSK sebelum puasa, yakni sebesar 74 PSK.

"Secara jumlah ada penurunan sebanyak empat orang. Dan dari 70 PSK yang berhasil didata, semuanya merupakan muka lama dan tidak ada wajah baru. Sedangkan untuk empat orang lainnya tidak kami ketahui apakah mereka sudah berhenti atau menjadi PSK di tempat lain," ujarnya, Senin (12/9/2011).

Toni menambahkan, pihaknya akan melakukan pendataan secara berkala setiap satu bulan sekali. Hal itu dilakukan untuk memantau adanya perubahan jumlah penghuni. Karena jika sampai 'over load' PSK tersebut akan dipulangkan.

"Kalau sudah over load kami akan berkoordinasi dengan Dinas Sosial selaku leading sektor untuk memulangkan PSK-PSK ke daerah asalnya. Karena jika sampai kelebihan bisa menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, jadi harus segera dipulangkan," tegasnya.

Kepala Keamanan lokalisasi Gude, Tohirin, membenarkan adanya penuruan jumlah PSK di tempatnya. Karena seluruh penghuni baik itu PSK maupun induk semang harus melapor dan diberi tanda pengenal khusus.

"Semua warga harus melapor ke saya jika tinggal disini. Selain itu seluruh warga disini juga saya berikan tanda identitas khusus. Jadi saya tahu pasti jumlah warga sini," ucapnya.

Salah satu PSK bernama Mia mengaku ingin berhenti dari pekerjaannya sebagai wanita penghibur. Namun ia tidak memiliki keahlian lain, padahal ia masih harus membiayai dua anaknya yang masih kecil kecil.

"Kalau ada kerjaan lain yang berhenti mas. Tapi kalau gak kerja anak saya mau makan apa. Selain itu saya juga masih punya banyak utang," ucapnya singkat sambil menutup wajahnya. [beritajatim.com

Harum Diculik, Disekap Lalu Diperkosa Puluhan Kali

TRIBUNNEWS.COM, BANGKA - Seorang ABG berumur 14 tahun, sebut saja Harum, warga Kecamatan Bukit Intan, diduga diperkosa lebih dari 30 kali. Pelaku adalah laki-laki yang menculiknya, Siddik (37), warga Kelurahan Tua Tunu, Kecamatan Rangkui, Pangkalpinang.
Aksi bejat Siddik baru diketahui setelah Harum berhasil ditemukan oleh polisi. Siddik ditangkap Kamis (15/9/2011).

Kasat Reskrim Polres Pangkalpinang, AKP Andi Rahmadi seizin Kapolres AKBP Margiyanta membenarkan pelaku perkosaan tersebut sudah ditangkap. "Pelakunya saat ini masih diperiksa di unit PPA Polres Pangkalpinang. Ia kita tangkap pagi tadi di sebuah rumah di kecamatan bukit intan," kata Andi Rahmadi.

Harum diculik pelaku dan dibawa kerumahnya, Rabu (13/7/2011). Harum diinapkan dirumahnya bersama dengan dua anak perempuannya. Dari hasil pemeriksaan sementara, lanjut Andi Rahmadi, pelaku mengaku telah menyetubuhi Harum lebih dari 30 kali. Aksi bejat tersebut dilakukan Siddik kurang lebih 2 bulan selama Harum diculik dan dibawa ke rumahnya.
"Selama 2 bulan itu lah ia memperkosa korban. Korban akhirnya berhasil kabur dan pulang kerumah orang tuanya. Ketika pelaku datang kerumah orang tua korban, kita yang sudah dapat laporan langsung menangkap pelakunya," jelasnya.

Pelaku harus menanggung perbuatannya. Ia diancam dengan hukuman penjara selama 15 tahun dikenakan pasal 81 ayat 1, pasal 82 dan pasal 83, UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan anak.

Transaksi Seks Meningkat saat SEA Games, Kondom Disiapkan

TRIBUNNEWS.COM, PALEMBANG - Kalau pemerintah dan panitia pusat SEA Games Palembang masih pusing tujuh keliling atas penyelesaian kompleks dan fasilitas pertandingan dan perlombaan, maka Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Palembang tidak begitu.
Komisi itu berkepentingan dalam penangkalan dan penanggulangan AIDS/HIV bagi manusia di wilayah itu.

KPA membuat 200 pojok kondom di hotel dan tempat hiburan malam terkait gelaran olahraga internasional itu.
"Jadi pengunjung mudah mendapat benda pelindung itu saat berhubungan seks. Diperkirakan transaksi seks akan meningkat, mengingat banyak pengunjung yang datang dari berbagai negara ke kota ini," kata Sekretaris KPA Palembang, Zailani UD, di Palembang, Kamis (15/9/2011).

Menurut dia, tidak bisa dipungkiri setiap ada kegiatan internasional, bisnis seks salah satu yang paling ramai dilakukan, mengingat pengunjung sebagian besar memang berasal dari negara yang berperilaku cenderung bebas. Penyediaan kondom juga menjadi tradisi yang dilakukan negara mana pun setiap kali menjadi tuan rumah perhelatan besar, seperti SEA Games, kata dia lagi.
Secara rutin KPA Palembang juga melakukan sosialisasi kepada para PSK untuk selalu menggunakan kondom saat berhubungan seks dengan pelanggan mereka.

Secara rutin bekerja sama dengan Dinas Kesehatan setempat, pihaknya juga melakukan penyuluhan agar para PSK secara rutin dapat memeriksakan diri ke klinik Voluntary Counseling and Testing (VCT), antara lain untuk melakukan tes virus HIV yang dilakukan secara sukarela, ujar dia.[sumber]

Kata PSK lokal Cewek Luar Cuma Enak Dilihat

TRIBUNNEWS.COM, BATAM- Ternyata setiap pekerja seks komersial (PSK) yang dipekerjakan di beberapa tempat hiburan dan panti pijat mempunyai pelanggan tersendiri.
Sehingga, antara satu PSK dengan yang lainnya tidak merasa khawatir dengan calon konsumen. Selain sesama PSK lokal, keberadaan PSK asing juga bukan menjadi suatu hambatan.

Para PSk lokal mempunyai keyakinan, untuk mendapat tamu tergantung dari 'servis' yang diberikan. Dengan pelayanan yang bagus, suatu saat konsumen membutuhkan kembali maka tentu tidak akan lari kemana-mana lagi.
"Tentunya tetap mencari kita dong mas," ujar Sinta, sapaan ramah oleh teman kerjanya di panti pijat Permai Indah di kawasan Nagoya, Batam.
Sambil menyulutkan sebatang rokok putih miliknya, cewek berambut panjang lurus ini menegaskan bahwa PSK asing yang beroperasi hanya dinikmati oleh para pejabat daerah yang berkunjung di Batam. Bahkan, banyak para pejabat itu yang khawatir dengan kondisi kesehatan para PSK asing itu sendiri.
"Saya pernah dapat tamu seorang pejabat dari Jakarta. Waktu saya mencoba menawarkan PSK asing, ia tidak mau untuk mencobanya," ujarnya.
Hal yang sama disampaikan Santi. Santi mengatakan tidak mengkhawatirkan keberadaan PSK asing itu sendiri. Menurut Cewek yang berusia 20 tahunan ini, justru calon konsumen yang ingin menikmati layanan seks yang khawatir dengan PSK asing tersebut.
"Dari tiga tahun yang lalu saya kerja ‘ginian’, belum ada tamu yang menginginkan, bahkan mencoba cewek dari luar," ujarnya sambil menyantap sarapan pagi di salah satu warung di kawasan Nagoya.
Menurutnya, tamu yang mencari cewek bookingan luar negeri hanya terangsang dari penampilan luarnya saja. Namun setelah dicoba, katanya, banyak tamu yang mengaku kecewa. Hingga banyak dari para tamu yang enggan untuk mencoba kembali.[sumber]

Daftar Blog Saya

Followers

 

Copyright © 2009 by Amoi News

Template by Blogger Templates | Powered by Blogger